delulu is the solulu
sosiologi di balik tren delusi positif sebagai cara bertahan hidup
Pernahkah kita terbangun di pagi hari, melihat daftar tagihan, menatap saldo rekening, lalu bergumam santai, "Tenang saja, besok aku pasti jadi miliarder"? Teman-teman mungkin akan tertawa atau sekadar menggelengkan kepala. Namun belakangan ini, ada satu mantra aneh yang berseliweran di mana-mana: delulu is the solulu. Delusional is the solution. Menjadi halu adalah solusi. Kedengarannya tidak masuk akal, bukan? Kenapa kita, sekumpulan orang dewasa yang konon rasional ini, tiba-tiba sepakat bahwa berkhayal adalah jalan keluar yang valid? Mari kita duduk sebentar dan membedah fenomena ini bersama-sama, karena ternyata ada hal yang jauh lebih besar dari sekadar tren internet di balik mantra ini.
Awalnya, saya pikir ini hanya lelucon numpang lewat. Istilah delulu sendiri sebenarnya lahir dari komunitas K-Pop bertahun-tahun lalu. Tujuannya untuk mengejek para penggemar yang terlalu fanatik dan berkhayal bisa menikahi idola mereka. Tapi hari ini, maknanya bergeser sangat drastis. Istilah ini berubah menjadi semacam tameng psikologis. Kalau kita bedah dari kacamata sosiologi, pergeseran ini sebenarnya sangat masuk akal. Kita sedang hidup di era yang sangat melelahkan. Kita dihantam pandemi, ancaman resesi, harga rumah yang terasa mustahil terbeli, hingga bayang-bayang AI yang siap merebut pekerjaan kita. Janji sosial lama yang berbunyi "bekerja keraslah maka kamu akan sukses" rasanya sudah mulai kadaluarsa. Ketika realitas di luar sana terlalu keras untuk dihadapi, rasionalitas murni justru bisa menyiksa kita. Di titik inilah, pura-pura percaya bahwa alam semesta sedang bekerja keras untuk mensukseskan kita terasa seperti strategi bertahan hidup yang sangat logis. Tapi tunggu dulu. Apakah otak kita benar-benar bisa ditipu seenaknya dengan narasi palsu?
Secara evolusioner, otak kita memang didesain untuk satu tujuan utama: bertahan hidup. Otak kita tidak didesain untuk selalu melihat kebenaran yang objektif. Teman-teman pasti familier dengan fenomena placebo effect. Saat kita percaya sebuah pil gula bisa menyembuhkan penyakit, tubuh kita akan benar-benar memproduksi zat kimia pereda nyeri. Otak kita merespons keyakinan kita, bukan sekadar realitas fisik. Dalam ilmu psikologi, ada konsep bernama cognitive dissonance. Ini adalah rasa sakit atau tidak nyaman saat harapan kita tidak sejalan dengan kenyataan. Untuk meredam rasa sakit ini, kita sering kali tanpa sadar membelokkan realitas. Jadi, ketika seseorang mempraktikkan gaya hidup delulu, mereka sebenarnya sedang meretas sistem saraf mereka sendiri. Mereka sengaja menciptakan narasi super positif agar tidak lumpuh oleh kecemasan. Namun, ini memunculkan sebuah teka-teki baru di kepala kita. Kalau berhalusinasi itu ternyata baik untuk mengurangi stres, lalu di mana batas antara mekanisme pertahanan diri yang sehat dan hilangnya kewarasan? Apa kata sains tentang "kebutaan" yang disengaja ini?
Inilah bagian yang paling mengejutkan dari perjalanan kita mencari tahu. Pada akhir dekade 1980-an, psikolog Shelley Taylor dan Jonathon Brown merilis sebuah riset yang mengguncang dunia akademik. Mereka menemukan konsep positive illusions. Temuan mereka sangat berlawanan dengan intuisi kita. Ternyata, orang yang kesehatan mentalnya paling stabil justru bukan mereka yang melihat dunia dengan sangat akurat. Orang yang sehat secara psikologis terbukti memiliki pandangan yang sedikit tidak realistis tentang diri mereka sendiri. Mereka merasa lebih pintar dari kenyataannya, merasa lebih memegang kendali atas nasib mereka, dan sangat optimis akan masa depan. Sebaliknya, orang-orang yang melihat realitas secara sangat akurat, tanpa filter sama sekali, justru punya kecenderungan depresi yang tinggi. Secara fisiologis, memiliki ilusi positif ini akan menurunkan kadar cortisol atau hormon stres dalam tubuh. Ia juga memicu pelepasan dopamin yang memberi kita motivasi. Jadi, delulu is the solulu sebenarnya adalah adaptasi psikologis prasejarah yang dibungkus dengan bahasa gaul masa kini. Di tengah struktur sosial yang menekan, delusi ringan memberi kita bahan bakar ekstra. Bahan bakar untuk tetap bangun dari kasur, mengirimkan satu CV lagi, atau berani memulai satu proyek baru meski kemungkinannya kecil. Ini adalah bentuk perlawanan sosiologis kita terhadap keputusasaan massal.
Pada akhirnya, kita semua hanyalah manusia yang sedang mencari cara untuk menavigasi dunia yang semakin membingungkan. Menjadi sedikit delulu bukanlah tanda kelemahan intelektual. Fenomena ini justru adalah bukti empati pada diri sendiri, bukti bahwa kita sedang berjuang keras untuk tetap waras. Tentu saja, kita tetap harus menginjak bumi. Meyakini bahwa tagihan listrik akan dibayar oleh peri baik hati jelas bukan ilusi yang sehat. Tapi, meyakini bahwa hari esok akan sedikit lebih baik walaupun buktinya belum terlihat, adalah jenis keberanian tersendiri. Jadi, tidak ada salahnya jika sesekali kita meminjam kacamata kuda untuk mengabaikan realitas yang suram. Jika sedikit ilusi positif bisa membuat kita tetap tersenyum dan kuat melangkah maju hari ini, maka ya, kadang-kadang delulu memang satu-satunya solulu.